Make your own free website on Tripod.com

DEPARTEMEN STUDI JEPANG UNIVERSITAS AIRLANGGA

Penelitian

Home
Staf Pengajar
Penerimaan Mahasiswa
Akademik
Program-program
Aktivitas
Jadwal Kegiatan
Peta dan Lokasi
Links
Kontak
Penelitian

Syahrur Marta DS

61aa.jpg

tentang "Geisha"

......Awalnya muncul Geisha wanita sebagai penghibur berasal dari sejenis pelayan wanita khas asia timur dalam perjamuan-perjamuan makan yang disebut dengan nama Sirabyoushi. Shirabyoushi ini mempunyai tugas dan pekerjaan menari sambil membawakan syair-syair lama Jepang atau kesenian-kesenian China jaman dulu.

Persentuhan Geisha dengan dunia prostitusi diawali dari antara tahun 1688-1704 (Genroku), dimana Shirabyoushi mulai berkembang menjadi 2 bentuk yang berbeda.       Perkembangan pertama yaitu dari Shirabyoushi yang kurang memiliki bakat seni,.dan dipekerjakan di tempat hiburan yang lazim disebut dengan Yukaku. Di dalam Yukaku mendapat sebutan nama sebagai taiko jouro. Dari taiko jouro menjadi salah satu objek industri hiburan komersial antara tahun 1751-1764l dan menjadi cikal bakal Geisha dalam artian wanita penghibur di dalam rumah-rumah hiburan (Yuukaku).

Asal Muasal kemunculan Geisha dan pelacur meskipun bisa dikatakan berbeda, akan tetapi persentuhan Geisha dengan dunia prostitusi secara intens ditemukan dalam kehidupan di Yukaku ini. Sebelum Geisha muncul, pemberian nama wanita penghibur dalam kompleks hiburan Yukaku dibedakan menurut tingkatan pendapatnnya dimana penyebutan antara daerah Kansai (Osaka dan Kyoto) dan Kanto (Tokyo) berbeda. Untuk daerah Kyoto disusun dengan urutan penyebutan nama seperti: Tayu- Tenjin – Kyokujoro (Hashijorou)  dan seterusnya, sedangkan untuk daerah Tokyo disusun dengan urutan penamaan seperti Oiran- Koshi – Sancha dan seterusnya. Wanita penghibur kelas tertinggi seperti Tayu dan Oiran juga mempelajari seni, dan terkadang muncul dalam pertunjukan drama Noh, tarian, dan Samisen sehingga disebut juga Mai-tayu atau Noh-tayu. Antara Geisha dan Mai-tayu menjadi sulit dibedakan karena kemampuan seninya.

Salah satu wanita penghibur yang erat hubungan dengan perkembangan Geisha adalah yang disebut dengan Taiko Shinzou atau Taiko Jorou. Seperti yang telah disinggung diatas, Taiko Jorou ini berasal dari Shirabyoushi yang dipekerjakan di Yukaku dan bertugas menghibur dengan kesenian seperti, samisen, tarian dan lagu-lagu dalam drama boneka Joruri. Taiko Shinzo inilah yang banyak disebut sebagai awal dari lahirnya Geisha didalam kompleks hiburan Yukaku,dan berkembang dengan sebutan Geisha Yukaku.

Perkembangan kedua dari Shirabyoushi adalah yang disebut dengan nama Odoriko yang merupakan wanita penghibur yang tidak berada di bawah naungan lembaga yang memiliki ijin resmi (Yukaku) dari pemerintah saat itu. Sesuai dengan namanya yang berarti anak perempuan penari, pekerjaan pertama yang digelutinya adalah menari dan kebanyakan dilakukan oleh remaja perempuan belasan tahun. Akan tetapi seiring dengan banyaknya permintaan dan makin tenarnya Odoriko ini, selanjutnya pekerjaan seni seperti memetik Shamisen juga dilakukan perempuan-perempuan dewasa yang mulai tertarik untuk yang menjadi Odoriko. Pada antara tahun Meiwa (1764-1772), dengan memperbandingkan panggilan Geisha yang ada di Yukaku , Odoriko disebut juga dengan nama Geisha Machi atau Geisha Kota. Geisha Machi ini umumnya diundang secara pribadi di rumah-rumah kaum samurai dan pedagang perkotaan. Selain itu juga Geisha Machi juga menerima panggilan dari restoran-restoran makan, tempat minum teh ataupun restoran kapal. Geisha Machi yang hidup di luar Yukaku ini disebut juga Okabasho. Mereka tinggal di distrik-distrik seperti Gion di Kyoto, Fukugawa, Yanigabashi dan Akasaka di Tokyo, dan membentuk kelompok sendiri dengan aturan-aturan dan budaya mereka sendiri. Geisha kota yang mengalami pertumbuhan lebih cepat dibanding Geisha dalam Yukaku, sehingga di Edo (nama lama Tokyo) bahkan bisa dikatakan bahwa ada 2-3 Geisha di setiap wilayah distrik kota. Di distrik-distrik kota seperti Gion (Kyoto) dan Asakusa (Tokyo) inilah Geisha masih bertahan sampai sekarang. Pada awal tahun 1779, Geisha di daerah Tokyo mengalami standarisasi dalam berpakaian dan aturan, serta dicatat di sebuah kantor regristrasi dan mulai membayar pajak dari penghasilannya.

Diluar perkembangan Geisha diatas, di daerah dikenal juga apa yang disebut Geisha Onsen atau Geisha Ryokan. Geisha ini bekerja di tempat-tempat pemandian air panas .......

Enter content here

Enter supporting content here

Department of Japanese Studies Airlangga University